Tokoh Cut Nyak Dien yang menginspirasi.
Sosok Cut Nyak Dien
membuat saya mengagumi beliau tokoh wanita tangguh yang ikut turun ke medan
perang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Beliau berani memimpin perang di
garis depan, melawan Belanda yang mempunyai persenjataan lebih lengkap
dibandingkan dengan pasukan Aceh.
Setelah Teuku Ibrahim Lamnga wafat tgl 29 juni 1878, Cut
Nyak Dien dinikahi oleh Teuku Umar, yang kemudian secara bersama-sama berjuang
melawan Belanda.Setelah mengetahui taktik perang Belanda. Teuku Umar, Cut Nyak
Dien, dan semua pasukan Aceh melarikan diri dengan membawa amunisi Belanda,
yang kemudian disebut dengan Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku
Umar).
Cut Nyak Dien bersama Teuku Umar dan pasukan Aceh mulai
melakukan penyerangan terhadap Belanda setelah memiliki persenjataan yang cukup
lengkap pada 1899, Teuku Umar gugur dalam perjuangannya melawan Belanda.Setelah
Teuku Umar gugur, Cut Nyak Dien bersama pasukan kecilnya melawan Belanda di
daerah pedalaman Meulaboh karena kondisi beliau yang sudah renta, pasukan Aceh berhasil
dikalahkan Belanda.
Cut Nyak Dien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh dan dirawat
di rumah sakit di sana namun tetap melakukan kontak dengan pasukan Aceh.Untuk
menghindari pengaruhnya terhadap pasukan Aceh, beliau diasingkan ke Sumedang Jawa Barat pada 11 Desember 1906
Saat tiba di Semedang bersama
dua tawanan lain, beliau dalam kondisi lusuh dengan tangan tak lepas memegang
tasbih.Saat menyerahkan Cut Nyak Dien kepada Bupati Sumedang, Belanda sengaja merahasiakan
identitas Cut Nyak Dien dan dua tawanan lain.Melihat perempuan yang taat
beragama tersebut, Bupati Sumedang tidak menempatkan Cut Nyak
Dien di penjara, melainkan menitipkannya di rumah H.Ilyas, seorang tokoh agama
di Sumedang.
Di tempat pengasingannya, beliau berhasil mengambil hati
banyak orang lantaran kepiawaiannya dalam menghafal Al-Qur'an. Sampai akhir hayatnya, beliau mengisi waktu dengan
mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat di sekitarnya sampai jati diri beliau tidak
diketahui oleh rakyat Sumedang.
Beliau wafat di Sumedang pada 6 November 1908, namun
makamnya baru diketahui secara pasti pada tahun 1960 saat Pemda Aceh sengaja
melakukan penelusuran.Sebagai tanda penghormatan karena kepandaiannya dalam
ilmu agama, Cut Nyak Dien pun disebut sebagai "Ibu Perbu (Ibu Ratu) dari
Negeri Seberang" oleh rakyat Sumedang.
Sebagai seorang wanita, kita patut mencontoh sosok Cut Nyak
Dien karena beliau wanita yang pemberani, berjiwa pemimpin dan pantang
menyerah. Beliau juga turut menyumbangkan ilmu agama untuk membangun anak-anak
bangsa berkarakter dan cerdas guna memajukan bangsa. Tegas, tangkas penuh
strategi dalam menghadapi masalah dan beliau mengutamakan kepetingan Negara perjuangan
melebihi kepentingan pribadi.

Komentar
Posting Komentar